ABSTRAKSI

Dusun Grangsil, Desa Jambangan, Kecamatan Dampit Kabupaten Malang terletak di lereng Gunung Semeru memiliki topografi perbukitan dengan pemandangan alam yang asri serta udara yang sejuk. Kondisi tanah dan potensi air yang baik menjadikan daerah lereng Semeru ini relatif subur, dengan dominasi potensi komoditas pertanian. Mata pencaharian masyarakat di daerah ini didominasi oleh masyarakat petani yang memiliki semangat dan etos kerja yang baik. Komunitas Dusun Grangsil, memiliki Modal Sosial yang luar biasa khususnya budaya gotong royong. Secara historis masyarakat Dusun Grangsil banyak yang memiliki keahlian menata taman berkat hasil “migrasi” mereka ke Pulau Bali. Keahlian mengolah taman inilah yang menjadikan masyarakat Grangsil beralih bertani tanaman hias, untuk mensupport keluarga mereka yang berprofesi sebagai Juru Taman di Bali. Profesi sebagai juru taman dan petani tanaman hias dan bunga di Grangsil menjadi ikatan yang kuat untuk menumbuhkan rasa solidaritas dan kebersamaan  membangun Dusun Grangsil.Kebersamaan dan kegotongroyongan ini menjadi modal sosial yang sangat besar untuk mewujudkan upaya pembangunan yang berkelanjutan. Melalui forum (PokDarWis), komunitas Grangsil secara bersama-sama merealisasikan impian mereka untuk mewujudkan “Kampoeng Wisata Boenga Grangsil”. Upaya pengembangan yang dilakukan oleh PokDarWis relatif berjalan dengan baik, walaupun beberapa masalah menjadi tantangan mereka.

Permasalahan yang dihadapi dalam upaya mengkembangkan KBG antara lain; Pertama, Keterjangkauan Teknologi; (1) keterbatasan signal internet (2G dan 3 G) yang tidak stabil untuk pengunjung upload swa foto; (2) Pengembangan tatakelola destinasi wisata membutuhkan penyediaan SIM tata kelola obyek wisata; (3) Pengembangan Teknologi kemasan produk dan Teknologi pengolahan, untuk pengembangan ekonomi kreatif. Kedua, Perencanaan Kawasan wisata; (1) Pendampingan terhadap perencanaan dan perancangan kawasan KBG; (2) Pendampingan tata kawasan. Ketiga, permasalahan Pemberdayaan masyarakat; (1) Pelatihan managemen destinasi wisata; (2) pelatihan local guide wisata KBG. Keempat, permasalahan pengembangan ekonomi kreatif; (1) Pengembangan produk local alternative yang khas, baik souvenir, kuliner, maupun tanaman dengan mengembangkan kiosk bunga dan souvenir; (2) peningkatan kegiatan produktif masyarakat sekitar lokasi KBG; kemasan produk camilan khas grangsil; peningkatan kualitas produk lokal kopi grangsil.

Luaran yang akan dihasilkan; Penerapan Teknologi Tepat Guna; Penerapan Teknologi  penguat Signal Internet dan HP; Pengembangan disain Produk khas Grangsil; Jurnal Nasional terakreditasi dan/atau Jurnal Internasional  bereputasi /schopus; Desiminasi seminar nasional dan/atau Internasional; Penerbitan buku Ber ISBN pada akhir tahun ketiga; Pencatatan HAKI atas temuan dan karya-karya teknologi. Program Pendampingan Desa Mitra akan dilaksanakan dalam 3 tahun anggaran.

Kegiatan Tahun I; Program Penyiapan KBG sebagai Destinasi Wisata, Program ini bertujuan untuk mepersiapkan KBG sebagai tempat wisata yang siap untuk dikunjungi terdiri dari 3 aktifitas utama; (1) Penataan fasilitas fisik KBG antara lain perancangan spot “Taman Boenga” sebagai icon KBG; (2) Penerapan Teknologi Penguat signal Internet dan HP; (3) Penerapan SIM tatakelola KBG; (4)  Pendampingan dan penguatan service excellence untuk menyiapkan local guide KBG. Tahun ke II; (2) Penguatan dan penyempurnaan Fasilitas KBG melalui akses pembiayaan alternatif (CSR), dalam rangka penguatan managemen KBG. Tahun ke III; Pemantapan dan penyempurnaan managemen KBG yang terintegrasi dengan pengembangan ekonomi kreatif masyarakat sekitar KBG.

Keyword: Pengembangan berbasis komunitas, Eco-tourism park, Pemberdayaan masyarakat, Ekonomi
kreatif.